Lost My Password

14 Sep

Hah! making excuse, don’t ya?

been not writing for 3 months (or more)

Hihihihiii..

That is true,, I’ve just recently forgot my password.

After not Log in for almost 4 months, I forgot it! so I resetted with the new one :)

But actually that’s not an excuse for me to not writing for that particularly loooonnnggg time..

Well, Been busy preparing for MY WEDDING.. #that’s the 1st excuse

yeah I’m a married woman now ^_^

and MY MINI LAPTOP, been brought by my sister for her KKN things… Dooohhh!

hate it so… #that’s the 2nd excuse

Well, now… the laptop is back.. see what’s going to happen now ;)

Tags:

Trista Dan Badut

30 May

Entah pikiran apa yang merasuk dirinya. Bosan dan stress dengan pekerjaan di kantornya. Trista memberanikan diri untuk mengajukan cuti 5 hari kerja. Dengan kemampuan berbahasa Inggris dan tabungan seadanya, Trista mulai mencari tiket ke Luar Negeri.

“Gw harus melihat Dunia!” Teriak Trista.

Iya, Trista sadar bahwa hidupnya bukan di dalam cubicle berukuran 2×2 meter. Bukan di balik Desktop seukuran 15 inch dan bukan di balik setumpuk odner ataupun kertas-kertas tebal yang harus dia review.

Trista memilih untuk pergi ke Portugal. Karena ia tidak tahu banyak tentang Negara tersebut kecuali fakta bahwa si ganteng Cristiano Ronaldo adalah striker yang berasal dari Portugal. Trista tidak memilih Negara Asia, karena sepengertiannya Asia lain akan terlihat sama dengan Indonesia. Trista juga tidak memilih Prancis, Italia ataupun Inggris, karena Negara tersebut sudah cukup terkenal dan Trista masih bisa menyebutkan beberapa tempat wisata di Negara-negara tersebut. Trista butuh liburan ke negara yang ia tidak tahu apa-apa tentangnya!

Disinilah Trista sekarang. Baru saja mendarat di Lisboa Ibukota Portugal kemarin sore, Ia tidak mencari referensi kemana ia akan pergi. Ia hanya butuh uang, peta jalur transportasi, nomor telepon KBRI, informasi dimana KBRI dan informasi akan nomor-nomor angkutan umum beserta jurusan juga waktu keberangkatannya. Sesimbra adalah tujuan utamanya. Bukan karena apa-apa, hanya karena ia memilih kota ini berdasarkan lagu ‘Cap Cip Cup Belalang Kuncup’. Lagu yang biasa ia nyanyikan saat ia bingung dalam memilih.

Baru tiba di kota Sesimbra, ia heran dengan keberadaan Kota yang ramai dan berwarna-warni. Karnaval! Yaelahhh… salah milih dah gua. Mending tadi ke pinggir pantai yang ketauan sepi sekalian. Gerutu Trista dalam hati. Kota Sesimbra kala itu sedang mengadakan karnaval selama seminggu penuh. Karnaval merupakan suatu tradisi yang melekat di kota ini.

Dan yang membuat Trista sebal, ternyata ini adalah Karnaval Badut! Iya Badut! Trista memang bukanlah seorang Coulrophobia (phobia akan badut). Badut merupakan perumpaan untuk dirinya sendiri. Trista menganggap badut merupakan seseorang yang pandai untuk tidak menampilkan emosi sesungguhnya. Saat ia sedih, wajahnya terlihat tertawa. Saat ia memasang wajah beringas, di dalam hati siapa yang tahu. Saat wajah badut menangis, benarkah ia menangis? Itulah kecanggihan dari make up seorang badut. Wajahnya tetap tertawa walaupun ia tahu ia bertingkah konyol.

Selama di kantor Trista menjadi badut dan bertemu dengan banyak badut. Ketika salah seorang teman kantornya mengambil hasil pekerjaannya dan mengganti nama Trista, Trista memasang wajah layaknya seperti badut konyol yang tetap bisa tertawa. Ketika ia melihat teman-temannya yang lain saling memfitnah dengan memasang wajah pura-pura menangis, Trista bertemu badut dengan make up menangis yang paling natural. Ketika ia tahu atasannya memanipulasi hasil tender tetapi dihadapan orang lain memasang wajah paling bijak, ahh kali ini Trista bertemu sama si badut joker.

“Aaaargghhhh!!!! Gila yah, miris banget idup gua, pergi ke ujung dunia juga diikutin badut.” Trista terduduk di suatu bangku halte bis kota Sesimbra. Kedua tangannya memegang kamera DSLR. Ahh, come on Ta, this is not a bad idea. Berulang kali kata-kata itu ia utarakan dalam pikirannya. Udah jauh-jauh kesini, mending ambil beberapa poto buat dipamerin di fesbuk. Lalu cari souvenir, sapa tau karena karnaval jadi murah. Hehehee..

Tanpa sadar, teriakannya tadi mengundang wajah-wajah mungil penuh rasa ingin tahu. Lima anak Sesimbra berusia sekitar 10-12 tahun yang sudah berdandan layaknya badut professional menghampirinya. “xxxxxxxxxxxx um Tourista?” Tanya salah seorang anak.

Trista tersentak, kq dia bisa tau nama gua? ngomong apa pula yak ni anak? Mampus gua, kepedean sih ambil Negara yang bukan berbahasa Inggris. Inggris aja masi ngaco, ini lagi bahasa Portugis..

“Tourista?” Tanya anak itu lagi sambil menunjuk Trista.

“Yes, Trista” Jawab Trista sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri dan mengangguk-angguk bingung.

Kelima anak itu tersenyum lebar dan membuat lipstik badut di wajah mereka terlihat tertarik dari ujung telinga ke ujung telinga yang satu lagi. Trista pun ikut tersenyum. Ia lalu mengarahkan kameranya, bersiap-siap untuk mengambil foto kelima anak tersebut. Anak-anak tersebut secara otomatis mengikuti arah kamera Trista dan bergaya. Trista pun mengambil beberapa foto mereka dan dirinya. Ia juga mengajari anak-anak tersebut menggunakan kameranya. Mereka tertawa bersama walau mereka saling tidak mengerti bahasa satu sama lain.

Setelah beberapa kali mengambil foto, Trista lalu melambaikan tangan kepada anak-anak tersebut dan melangkah pergi menjauhi pusat kota.

Grab! Trista terkejut. Salah seorang anak menarik tangan kiri Trista, lalu mengarahkan Trista kearah keramaian kota. Anak-anak tersebut mengoceh dengan bahasa Portugis. Trista bingung akan artinya. Tapi sepertinya anak-anak itu menginginkan Trista bersama mereka dan mengambil foto Karnaval kota mereka.

Kemudian Trista melihat hal yang paling ingin ia hindari di dunia ini. Ratusan mungkin ribuan badut berkumpul dan bercengkerama bersama di pusat kota.

“xxxxxxx Foto.” Kata anak-anak tersebut.

Trista tersenyum dan mulai mengeluarkan kamera DSLR nya dan kembali mengambil foto. Ia mengambil foto suasana kota yang ramai dan penuh dengan hiasan warna warni menyala. Ia juga mengambil foto para pengunjung karnaval yang terlihat antusias melihat karnaval aneka badut. Dan Trista juga mengambil banyak foto tentang orang-orang yang tetap percaya diri walaupun wajah mereka penuh dengan make up aneh, memakai baju aneh, mengenakan sepatu aneh, maupun topi yang paling aneh yang pernah Trista lihat. Lalu badut-badut dengan wig rambut kribo, wig rambut gimbal atau yang tetap menggunakan rambut dengan di cat warna-warni ala kadarnya juga tidak ketinggalan ia abadikan dalam kameranya.

Trista heran, dirinya berada di dalam ratusan kerumunan badut, tapi ia merasa senang. Merasa bahwa ini merupakan pengalaman yang paling membahagiakan dalam hidupnya.

Pengalaman yang paling membahagiakan dalam hidupnya?

“Oh.. ternyata begitu…” Gumam Trista. Seketika ia tersadar jalan apa yang sedang ia hadapi sekarang. Mungkin kini ia menjadi seorang badut yang berada di dalam situasi yang paling menyebalkan selama hidupnya. Tapi itu semua adalah pengalaman; pengalaman bagaimana ia mengendalikan emosinya, pengalaman untuk memilih ia akan menjadi orang yang seperti apa atau memilih menjadi badut seperti apa. Yang ia sadari sekarang, menjadi badut ternyata membawa banyak warna dan kisah di dalam kehidupan orang-orang disekitarnya.

Trista tersenyum, tersenyum selebar-lebarnya seakan mulutnya kini berubah betulan menjadi mulut badut. Kepala Trista kini celingak-celinguk ke kiri dan kanan. Ia mencari lima badut kecil. Ia ingin berterima kasih dengan mentraktir es krim untuk kelima badut kecil Sesimbra yang telah membawanya kemari.

Originally made by Amel.
Ditulis dengan minimnya pengetahuan akan Kota Sesimbra, Negara Portugal, bahasa Portugis, maupun The Parade of Clowns disana.
Written For Janji Jumat 28th May 2010
*sepertinya, gak jadi bulan purnama nih :P *

Tags: ,

Boookk! Gak ada Ideee!

28 May

Hoshh! udah hari Jumat lagi dan belum ada satupun script untuk Janji Jumat yang jadi..

>_<

“Sang badut tidak bosan-bosannya mengikuti ke mana Trista melangkah.”

Itulah tema untuk Janji jumat minggu ini..

Ada beberapa ide..

Ide pertama. Membuat cerita tentang anak kecil bernama Trista yang berhasil merubah orang-orang yang ditemuinya menjadi badut dalam perjalanan ke karnaval kota.

Ide Kedua. Seseorang yang tersesat di Karnaval penuh dengan badut, lalu memahami apa tujuan hidupnya. Namun, berhubung saya ingin mengkaitkan Karnaval Badut dengan Kota Sesimbra (suatu kota yang memang selalu mengadakaan Karnaval Badut setiap tahunnya), idenya menjadi stuck karena pengetahuan saya yang minim tentang kota ini. Aaarghghh!!

Tampaknya saya akan menjadi bulan pernama dulu.. Menulis sekali dalam sebulan… hohohohoooo

Maafkeunnn >_<

Tags: , , ,

Tidak! Jenderal Adrian.

14 May

Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu adalah awal musim gugur yang indah. Sebenarnya, hari itulah pertama kalinya aku melihat musim gugur. Warna-warna cerah dan hangat menyelimuti seluruh kota. Oranye, kuning, coklat tua, dan oranye kemerah-merahan. Daun-daun yang berguguran pun nampak seperti selimut di jalanan. Indah sekali. Nuansanya benar-benar cocok dengan seragamku yang berwarna merah.

Jenderal Adrian namanya. Ia seorang yang periang dan bersemangat. Badannya tinggi sekali, lebih tinggi daripada diriku. Pipinya selalu memerah setiap dia marah. Terkadang ia nampak kasar, baik saat dia berbicara maupun bagaimana dia memperlakukan kami. Tapi aku tahu, dia orang yang kesepian. Hanya kamilah yang ia punyai.

Jenderal sangat bangga padaku. Aku ingat saat ia membawaku ke koloni, memperkenalkan aku untuk pertama kalinya, ia berkata “Kau prajurit paling gagah yang pernah kumiliki. Mulai saat ini, kau menjadi pemimpin di garis depan. Jangan kecewakan aku ya?! Kalian dengar? Dia lah pemimpin kalian sekarang. Kalian harus memanggilnya Mayor! Ingat itu Robin Hood, dan jangan coba-coba membangkang!”

Tidak. Teman-teman koloniku tidak ada yang berani membangkang. Mereka selalu mengikuti apa kata Jenderal. Termasuk Robin Hood. Dulu, ia merupakan kesayangan Jenderal. Aku tidak tahu nama aslinya, tapi begitulah Jenderal memanggilnya. Julukan itu diberikan oleh Jenderal karena menurutnya perawakan Robin Hood sama seperti karikatur dalam buku cerita milik Jenderal yang berjudul `The Adventures of Robin Hood`.

Beberapa hari bersama Jenderal, aku mulai merasa Jenderal keterlaluan dalam memperlakukan kami. Terkadang ia tidak mempunyai belas kasihan. Ia sering membiarkan kami terus berada di garis depan walaupun dia sudah umumkan bahwa perang sudah berakhir. Ia tidak pernah membawa kami kembali ke koloni kami dan dengan cueknya ia bisa tertidur lelap di kamarnya sendiri.

Sering juga Jenderal tidak peduli kepada anak buahnya yang terluka. Bila kami luka lecet, Jenderal masih mau mempertahankan kami. Tapi, apabila kami luka parah, Jenderal langsung membuang kami begitu saja.

Dan aku.. Aku tidak bisa berkata tidak atas perbuatan Jenderal. Kami semua menyayangi Jenderal. Dialah yang membuat kami berguna. Kami senang disini. Namun, ingin sekali aku bisa berkata “Tidak Jenderal, jangan buang teman-temanku, jangan sia-siakan kami, kami masih bisa berguna”.

Kini, hampir satu tahun sudah aku berada di tempat Jenderal. Robin Hood sudah tidak bersama kami. Ia sekarang selalu berada di bilik, tidak pernah diturunkan ke medan perang lagi. Aku sedih dan juga heran kepada Jenderal. Kondisi fisik Robin Hood masih bagus,  ia terlihat masih gagah dibalik seragamnya yang luntur. Tapi, Jenderal bilang ia sudah bosan dengan Robin Hood. Ia butuh seseorang yang lebih bisa diandalkan. Yang lebih kuat dan punya lebih banyak senjata canggih. Yang lebih terlihat segar dan baru.

Yah.. walau begitu setidaknya Robin tidak dibuang.

Suatu hari, musim gugur pun kembali tiba. Aku melihat Jenderal begitu bersemangat. Jari jemarinya terus menerus mengetuk kalender yang menempel di dinding. Ia berlarian, meloncat-loncat kesana kemari dan terkadang tanpa sengaja menginjak kami. Walau begitu, tidak biasanya hari ini dia tidak marah-marah dan melampiaskan tendangan ke kami.

“Tok! Tok!” ada ketukan pelan di depan pintu kamar Jenderal yang sudah terbuka. Astaga! Ternyata Ibu Jenderal datang kemari! Juga Ayahnya! Ada apakah gerangan? Aku melirik ke arah kalender yang sedari tadi diketuk Jenderal. Hari ini, tanggal 4 Oktober, dilingkari spidol berwarna merah dan terdapat gambar kue dengan lilin diatasnya.

Ahh, aku tahu sekarang, ternyata hari ini hari ulang tahun Jenderal!

“Ibu! Mana hadiah ku? Ibu janji kan mau belikan aku Robocop!” rengek Jenderal sambil memeluk erat kedua orangtuanya. Rengekan yang sama seperti saat Jenderal meminta dibelikan satu set kereta api pada awal tahun. Rengekan yang sama saat Jenderal meminta satu set diorama palstik untuk perang kami di awal musim semi. Rengekan yang sama saat Jenderal meminta pistol baru di awal musim panas. Dan juga rengekan yang sama saat Jenderal meminta Truk besar berwarna biru dua minggu yang lalu.

“Astaga Adrian, bukankah Ayah sudah bilang, tidak ada mainan lagi. Lihat lemari mu Nak, penuh dengan mainan.” Kata Ayah Jenderal.

“Tapi Ayah, semuanya sudah butut. Aku mau yang baru!” Adrian berkata. Pipinya mulai kemerahan.

“Adrian, mainan mu ini sudah banyak, dan kamu tidak pernah merawatnya, jelas saja jadi jelek-jelek begini. Lihat..” Ibu Jenderal menunjuk lantai, tempat aku dan teman-temanku berbaring. “bukannya disimpan biar rapih. Kalau terinjak kan bisa patah. Sayang Nak..”

“Ya sudah, kalau begitu yang di dalam lemari dibuang saja.” Adrian menunjuk bilik tempat Robin Hood berada.

Ibu Jenderal menghela nafas “Adrian, tidak semua anak seberuntung kamu. Mereka belum tentu punya satu pun mainan. Hargailah apa yang kamu punya sekarang.”

“Kalau mainan mu bisa berbicara, mereka pasti tidak mau dibuang. ” Kata Ayah Jenderal.

“Iya! Benar Jenderal  Adrian, kami tidak mau dibuang! Sayangilah kami!” Teriak ku dalam hati.

Adrian lalu mengambilku dari lantai, sekarang pipinya sudah sangat memerah. Kemudian dengan sekuat tenaga, ia melemparku ke arah jendela.

Continue reading 

Tags: ,

Hello world! (Part 2)

14 May

The previous entry Hello world part 1 is not originally a post from me.. :)

berbeda dengan blogspot, begitu membuat wordpress ternyata ada post otomatis-nya (baru tau, hehee).

sekarang saya masih kesulitan dengan managing blog ini.. jadi masih sepi dengan theme maupun yang lainnya..

well, mungkin akan selalu begitu, mengingat saya juga masih sulit mengoperasikan blogspot saya (dasar gaptek, ;p)

To be honest, ini bukan blog pertama saya. Blog pertama saya sudah lama dihapus. Dan blog kedua, masih ada, tapi mungkin tidak akan diperuntukkan untuk tujuan satu ini..

Kenapa saya membuat blog baru?

Pertama, Saya diundang oleh teman saya -ilma- untuk join group janji jumat di facebook.

Lalu beberapa kali visiting ke web janji jumat.. akhirnya, saya memberanikan diri mencoba menulis..

I like to read stories whether it’s fiction or non fiction. I like letting my mind fall deep into the writer’s mind.

I tend to write, but not regularly. I just write to keep my ideas and fantasies flown, and maybe to fill some time.

Well, with this post..

I welcoming thou to my black pen and white paper (even though you know i am not writing my stories with pen and paper but with a microsoft 2007, just pretending this is a white paper fill with black ink pen *wink*)

Tags:

Hello world!

14 May

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.