Entah pikiran apa yang merasuk dirinya. Bosan dan stress dengan pekerjaan di kantornya. Trista memberanikan diri untuk mengajukan cuti 5 hari kerja. Dengan kemampuan berbahasa Inggris dan tabungan seadanya, Trista mulai mencari tiket ke Luar Negeri.
“Gw harus melihat Dunia!” Teriak Trista.
Iya, Trista sadar bahwa hidupnya bukan di dalam cubicle berukuran 2×2 meter. Bukan di balik Desktop seukuran 15 inch dan bukan di balik setumpuk odner ataupun kertas-kertas tebal yang harus dia review.
Trista memilih untuk pergi ke Portugal. Karena ia tidak tahu banyak tentang Negara tersebut kecuali fakta bahwa si ganteng Cristiano Ronaldo adalah striker yang berasal dari Portugal. Trista tidak memilih Negara Asia, karena sepengertiannya Asia lain akan terlihat sama dengan Indonesia. Trista juga tidak memilih Prancis, Italia ataupun Inggris, karena Negara tersebut sudah cukup terkenal dan Trista masih bisa menyebutkan beberapa tempat wisata di Negara-negara tersebut. Trista butuh liburan ke negara yang ia tidak tahu apa-apa tentangnya!
Disinilah Trista sekarang. Baru saja mendarat di Lisboa Ibukota Portugal kemarin sore, Ia tidak mencari referensi kemana ia akan pergi. Ia hanya butuh uang, peta jalur transportasi, nomor telepon KBRI, informasi dimana KBRI dan informasi akan nomor-nomor angkutan umum beserta jurusan juga waktu keberangkatannya. Sesimbra adalah tujuan utamanya. Bukan karena apa-apa, hanya karena ia memilih kota ini berdasarkan lagu ‘Cap Cip Cup Belalang Kuncup’. Lagu yang biasa ia nyanyikan saat ia bingung dalam memilih.
Baru tiba di kota Sesimbra, ia heran dengan keberadaan Kota yang ramai dan berwarna-warni. Karnaval! Yaelahhh… salah milih dah gua. Mending tadi ke pinggir pantai yang ketauan sepi sekalian. Gerutu Trista dalam hati. Kota Sesimbra kala itu sedang mengadakan karnaval selama seminggu penuh. Karnaval merupakan suatu tradisi yang melekat di kota ini.
Dan yang membuat Trista sebal, ternyata ini adalah Karnaval Badut! Iya Badut! Trista memang bukanlah seorang Coulrophobia (phobia akan badut). Badut merupakan perumpaan untuk dirinya sendiri. Trista menganggap badut merupakan seseorang yang pandai untuk tidak menampilkan emosi sesungguhnya. Saat ia sedih, wajahnya terlihat tertawa. Saat ia memasang wajah beringas, di dalam hati siapa yang tahu. Saat wajah badut menangis, benarkah ia menangis? Itulah kecanggihan dari make up seorang badut. Wajahnya tetap tertawa walaupun ia tahu ia bertingkah konyol.
Selama di kantor Trista menjadi badut dan bertemu dengan banyak badut. Ketika salah seorang teman kantornya mengambil hasil pekerjaannya dan mengganti nama Trista, Trista memasang wajah layaknya seperti badut konyol yang tetap bisa tertawa. Ketika ia melihat teman-temannya yang lain saling memfitnah dengan memasang wajah pura-pura menangis, Trista bertemu badut dengan make up menangis yang paling natural. Ketika ia tahu atasannya memanipulasi hasil tender tetapi dihadapan orang lain memasang wajah paling bijak, ahh kali ini Trista bertemu sama si badut joker.
“Aaaargghhhh!!!! Gila yah, miris banget idup gua, pergi ke ujung dunia juga diikutin badut.” Trista terduduk di suatu bangku halte bis kota Sesimbra. Kedua tangannya memegang kamera DSLR. Ahh, come on Ta, this is not a bad idea. Berulang kali kata-kata itu ia utarakan dalam pikirannya. Udah jauh-jauh kesini, mending ambil beberapa poto buat dipamerin di fesbuk. Lalu cari souvenir, sapa tau karena karnaval jadi murah. Hehehee..
Tanpa sadar, teriakannya tadi mengundang wajah-wajah mungil penuh rasa ingin tahu. Lima anak Sesimbra berusia sekitar 10-12 tahun yang sudah berdandan layaknya badut professional menghampirinya. “xxxxxxxxxxxx um Tourista?” Tanya salah seorang anak.
Trista tersentak, kq dia bisa tau nama gua? ngomong apa pula yak ni anak? Mampus gua, kepedean sih ambil Negara yang bukan berbahasa Inggris. Inggris aja masi ngaco, ini lagi bahasa Portugis..
“Tourista?” Tanya anak itu lagi sambil menunjuk Trista.
“Yes, Trista” Jawab Trista sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri dan mengangguk-angguk bingung.
Kelima anak itu tersenyum lebar dan membuat lipstik badut di wajah mereka terlihat tertarik dari ujung telinga ke ujung telinga yang satu lagi. Trista pun ikut tersenyum. Ia lalu mengarahkan kameranya, bersiap-siap untuk mengambil foto kelima anak tersebut. Anak-anak tersebut secara otomatis mengikuti arah kamera Trista dan bergaya. Trista pun mengambil beberapa foto mereka dan dirinya. Ia juga mengajari anak-anak tersebut menggunakan kameranya. Mereka tertawa bersama walau mereka saling tidak mengerti bahasa satu sama lain.
Setelah beberapa kali mengambil foto, Trista lalu melambaikan tangan kepada anak-anak tersebut dan melangkah pergi menjauhi pusat kota.
Grab! Trista terkejut. Salah seorang anak menarik tangan kiri Trista, lalu mengarahkan Trista kearah keramaian kota. Anak-anak tersebut mengoceh dengan bahasa Portugis. Trista bingung akan artinya. Tapi sepertinya anak-anak itu menginginkan Trista bersama mereka dan mengambil foto Karnaval kota mereka.
Kemudian Trista melihat hal yang paling ingin ia hindari di dunia ini. Ratusan mungkin ribuan badut berkumpul dan bercengkerama bersama di pusat kota.
“xxxxxxx Foto.” Kata anak-anak tersebut.
Trista tersenyum dan mulai mengeluarkan kamera DSLR nya dan kembali mengambil foto. Ia mengambil foto suasana kota yang ramai dan penuh dengan hiasan warna warni menyala. Ia juga mengambil foto para pengunjung karnaval yang terlihat antusias melihat karnaval aneka badut. Dan Trista juga mengambil banyak foto tentang orang-orang yang tetap percaya diri walaupun wajah mereka penuh dengan make up aneh, memakai baju aneh, mengenakan sepatu aneh, maupun topi yang paling aneh yang pernah Trista lihat. Lalu badut-badut dengan wig rambut kribo, wig rambut gimbal atau yang tetap menggunakan rambut dengan di cat warna-warni ala kadarnya juga tidak ketinggalan ia abadikan dalam kameranya.
Trista heran, dirinya berada di dalam ratusan kerumunan badut, tapi ia merasa senang. Merasa bahwa ini merupakan pengalaman yang paling membahagiakan dalam hidupnya.
Pengalaman yang paling membahagiakan dalam hidupnya?
“Oh.. ternyata begitu…” Gumam Trista. Seketika ia tersadar jalan apa yang sedang ia hadapi sekarang. Mungkin kini ia menjadi seorang badut yang berada di dalam situasi yang paling menyebalkan selama hidupnya. Tapi itu semua adalah pengalaman; pengalaman bagaimana ia mengendalikan emosinya, pengalaman untuk memilih ia akan menjadi orang yang seperti apa atau memilih menjadi badut seperti apa. Yang ia sadari sekarang, menjadi badut ternyata membawa banyak warna dan kisah di dalam kehidupan orang-orang disekitarnya.
Trista tersenyum, tersenyum selebar-lebarnya seakan mulutnya kini berubah betulan menjadi mulut badut. Kepala Trista kini celingak-celinguk ke kiri dan kanan. Ia mencari lima badut kecil. Ia ingin berterima kasih dengan mentraktir es krim untuk kelima badut kecil Sesimbra yang telah membawanya kemari.
Originally made by Amel.
Ditulis dengan minimnya pengetahuan akan Kota Sesimbra, Negara Portugal, bahasa Portugis, maupun The Parade of Clowns disana.
Written For Janji Jumat 28th May 2010
Tags: badut, janji jumat